Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Pemerintah Pinggirkan Peran Transportasi Publik

Written By bopuluh on Selasa, 06 Agustus 2013 | 22.55


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah dinilai terlalu menganaktirikan pelayanan transportasi publik di seluruh wilayah Indonesia. Padahal, pemudik akan lebih murah bila menggunakan transportasi publik ke kampung halamannya.

"Pelayanan transportasi publik kita mengecewakan. Karena layanan transportasi publik ke kampung halaman ini terbatas, masyarakat akhirnya secara terpaksa menggunakan kendaraan pribadi untuk mudik," kata Pengamat transportasi Djoko Setijowarno kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (7/8/2013).

Djoko menilai mudik dengan menggunakan transportasi pribadi memang lebih enak karena bisa bersama-sama keluarga. Namun jenis transportasi ini cenderung memiliki risiko kecelakaan yang tinggi. Apalagi bila pemudik justru memilih kendaraan roda dua untuk mudik.

Berdasarkan data dari Kepolisian RI, sekitar 70 persen pemudik yang tewas selalu menggunakan kendaraan roda dua. Sebenarnya, kata Djoko, pemerintah bisa melakukan revitalisasi transportasi publik untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara murah, mudah, aman dan nyaman.

Masalahnya, transportasi publik ini seakan dianaktirikan oleh pemerintah, terutama dari sisi anggaran. "Pemerintah ini bukannya tidak mampu untuk memberikan layanan transportasi publik, tapi mereka ini belum mau," jelasnya.

Djoko menilai pemerintah justru mengobral anggaran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tahun ini saja mencapai Rp 175 triliun untuk kendaraan pribadi. Setelah harga BBM naik, pemerintah juga tidak segera merevitalisasi transportasi publiknya. Malahan, pemerintah sibuk memberikan subsidi mobil murah, dengan anggaran cukup fantastis, yaitu sekitar Rp 67 triliun.

"Padahal untuk merevitalisasi transportasi umum ini, khususnya yang berbasis jalan raya hanya mengalokasikan tidak lebih dari Rp 1 triliun," jelasnya.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko


22.55 | 0 komentar | Read More

Saksi: Aiptu Dwiyatna Ditembak dari Jarak Dekat

Lokasi terjadi penembakan terhadap anggota Binas Polsek Cilandak, Aiptu Dwiyana, di Jalan Ottista, Ciputat, Tangerang Selatan. Dwiyatna ditembak hingga tewas oleh pelaku tak dikenal dalam perjalanan ke Masjid Raya Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (7/8/2013) subuh. | KOMPAS.com/KURNIA SARI AZIZA

JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi menduga penembakan terhadap Aiptu Dwiyatna, anggota Unit Binmas Polsek Metro Cilandak, dilakukan dari jarak dekat.

"Ini (penembakan) jarat dekat, dari kesaksian saksi di TKP (tempat kejadian perkara)," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu (7/8/2013).

Korban ditembak saat mengendarai motor dari rumahnya ke Masjid Raya Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pelaku yang diduga berjumlah dua orang dan mengendarai sepeda motor menembak korban dan mengenai kepala belakang pada bagian telinga kanan. Proyektil bersarang di pelipis sebelah kiri.

"Tidak ada latar belakang yang cukup kuat korban berselisih dengan orang tertentu. Yang menimpa korban masih belum jelas karena tidak ada latar belakang yang jelas untuk motifnya apa," ujar Rikwanto.

Penembakan terhadap Dwiyatna ini hanya berselisih 10 hari dari kejadian serupa yang menimpa anggota Satuan Lalu Lintas Wilayah Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono, pada 27 Juli 2013. Patah tewas ditembak pelaku tak dikenal di Jalan Cirendeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, pukul 04.30.

Waktu itu Patah tengah berangkat dari rumahnya di Bojongsari, Depok, dan didekati dua orang yang menggunakan sepeda motor. Satu di antaranya mengeluarkan sepucuk senjata api dan melepaskan tembakan ke arah dada Patah. Hingga kini identitas pelaku pada dua kasus itu belum tak terungkap.

Editor : Laksono Hari Wiwoho


22.55 | 0 komentar | Read More

Google Ditinggal Pelopor \"Hashtag\"

Written By bopuluh on Senin, 05 Agustus 2013 | 22.55

Chris Messina

KOMPAS.com - Chris Messina, seseorang yang dikenal mempelopori pemakaian simbol "#" alias hashtag (tanda pagar atau tagar) di media sosial, memutuskan hengkang dari Google setelah bekerja selama tiga setengah tahun lebih.

Messina bergabung di Google pada 2009 sebagai lead developer relations Google Buzz, sebuah layanan jejaring sosial Google yang berumur pendek. Beberapa tahun terakhir ini, ia bergabung dengan tim Google+ untuk urusan user experience (UX), termasuk mendesain tombol +1 (semacam interaksi Like di Facebook).

Meskipun namanya tidak terlalu dikenal, namun Messina punya sumbangsih untuk media sosial internet. Seperti dikutip dari AllThingsD, Messina jadi pelopor pemakaian hashtag sejak Agustus 2007.

Simbol hashtag kemudian digunakan oleh banyak media sosial untuk memberi tanda atas topik atau peristiwa yang sedang dibicarakan.

Dalam publikasi di blog pribadinya, Messina mengatakan, selanjutnya ia akan bekerja sebagai head of community and growth di sebuah perusahaan rintisan NeonMob yang berbasis di San Fransisco, Amerika Serikat. Meski karyawan di perusahaan ini hanya 6 orang, Messina mengaku tertarik dengan produk NeonMob yang fokus pada produk seni digital.


22.55 | 0 komentar | Read More

Ke Mekkah, Dahlan Jajakan Pesawat Terbang PTDI


JAKARTA, KOMPAS.com
- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan saat ini sedang umroh ke Mekkah dengan mengendarai pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia.

Selain umroh, Dahlan juga memiliki agenda lain, yaitu mempromosikan pesawat buatan BUMN yang berbasis di Bandung itu dan mencari dukungan pendanaan dari Islamic Development Bank (IDB).

"Dalam pembicaraan itu, Pak Dahlan minta dukungan agar IDB bisa mendukung ekspor pesawat-pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Bandung melalui fasilitas kredit ekspor IDB," kata Juru Bicara Kementerian BUMN Faisal Halimi kepada Kompas.com, Selasa (6/8/2013).

Dia menambahkan, penjualan pesawat terbang milik PTDI ini akan lancar jika bisa menggunakan kredit ekspor terutama dari IDB. Bagaimanapun, negara pembeli biasanya menginginkan membeli pesawat sekaligus pembiayaannya.

Saat ini, ujarnya, PTDI memang berusaha menawarkan pesawat terbang untuk Bangladesh dan ke beberapa negara di Afrika. Ternyata respon dari negara-negara ini bagus.

"Pak Dahlan juga ditanya oleh IDB, negara mana saja yang sudah menyatakan minatnya ingin membeli pesawat dari PTDI, saya jawab juga termasuk negara Filipina," tambahnya.

Selama 3 tahun ke depan, IDB memang menyediakan fasilitas pendanaan hingga sekitar Rp 30 triliun. IDB juga berencana membuka kantor di Jakarta akhir tahun ini. Sebab, selama ini untuk kantor Asia Tenggara berkantor di Kuala Lumpur.

Presiden Islamic Development Bank (IDB) Ahmed Muhammed Ali juga sudah mengenal baik industri pesawat terbang Indonesia karena pernah diajak oleh Menteri Riset dan Teknologi saat itu, Habibie ke Bandung di awal tahun 1990-an.

Pihaknya berharap bisa segera mewujudkan keinginan Dahlan sekaligus bisa memajukan bisnis pesawat terbang di Indonesia. "Kami berharap bisa bekerjasama dengan perusahaan BUMN Indonesia untuk mengembangkan perekonomian Indonesia," kata Ahmed.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko


22.55 | 0 komentar | Read More

Pemudik dari Terminal Ubung Diprediksi Naik 10 Persen

Written By bopuluh on Minggu, 04 Agustus 2013 | 22.56


DENPASAR, KOMPAS.com - Lonjakan jumlah pemudik yang menggunakan bus dari Terminal Ubung, Denpasar, pada arus mudik tahun ini melebihi arus mudik 2012.

"Perkiraan kita (jumlah pemudik) naik 10 persen dibanding tahun lalu," ujar Kadishub Kota Denpasar Gede Astika.

Pemudik dari Terminal Ubung didominasi warga asal Jawa Timur kemudian Jawa Tengah, Jabar, dan DKI Jakarta. "Biasanya penumpang yang dari Jatim, Banyuwangi, Jember, Surabaya," jelas Astika.

Membeludaknya penumpang di Terminal Ubung tahun ini karena adanya sejumlah proyek besar yang menyedot ribuan pekerja dari Jawa seperti Tol JDP (Jalan di Atas Perairan) dan renovasi Bandara Ngurah Rai.

Untuk mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang, Terminal Ubung telah berkoordinasi dengan Organda dan Angkutan Pariwisata untuk menyediakan bus cadangan yang jumlahnya lebih dari 100 unit.

Editor : Kistyarini


22.56 | 0 komentar | Read More

Shanghai Sanggup Membangun 132 Pencakar Langit dalam 18 Tahun!

SHANGHAI, KOMPAS.com - Shanghai merupakan megapolitan di China dengan transformasi paling spektakuler dan mengesankan. Kota ini sebelumnya sarat dengan lahan pertanian yang luas. Masifnya pengembangan properti, mengubah segalanya. Salah satu yang menjadi fokus perhatian dunia adalah distrik keuangan Pudong. Distrik ini mengalami perkembangan dengan eskalasi yang menakjubkan selama lebih dari dua dekade.

Guna membuktikannya, Dailymail, membuat komparasi fotografi Shangai pada 26 tahun silam dengan saat sekarang, ketika ledakan pembangunan pencakar langit mendominasi cakrawala kota.


Gambar pertama menunjukkan Pudong pada tahun 1987, daerah di sebelah timur Sungai Huangpu. Aktifitas pertanian dalam foto ini masih terlihat jelas di tengah-tengah eksistensi bangunan pabrik dan perkantoran dengan ketinggian rendah (low rise).Foto kedua diambil pekan lalu. Ini menunjukkan sebuah distrik yang kompak, sarat gedung pencakar langit dan lebih futuristik. Wilayah ini memang dirancang sebagai Zona Ekonomi Khusus yang diluncurkan Partai Komunis di Beijing pada 1990. Pudong New Area sendiri secara resmi didirikan tiga tahun kemudian.

Pudong aktual merupakan pusat komersial paling ramai di China. Sabtu lalu, menara tertinggi kedua di dunia, Shanghai Tower setinggi 632 meter, kelar konstruksinya dan menggenapi eksistensi pencakar langit lainnya seperti Jin Mao Tower dan Shanghai World Financial Center.

Shanghai Tower memiliki lift tercepat di dunia yang diinstal Mitsubishi. Lift ini menggunakan taksi ganda yang akan membawa pengunjung "mengangkasa" dengan kecepatan 40 mil per jam (mph).

Perancangnya, Art Gensler mengatakan, Shanghai Tower merupakan cara baru untuk mendefinisikan dan menciptakan kota. Dengan menggabungkan praktik-praktik terbaik dalam keberlanjutan dan kinerja tinggi, Snghai Tower mengubah peran gedung-gedung tinggi di kota-kota kontemporer.

Selain Shanghai Tower, kota ini telah memiliki 131 pencakar langit (high rise building)yang dibangun sejak 1995. Lima di antaranya merupakan supertall dengan ketinggian melebihi 300 meter.

Tak cukup sampai di situ, China juga bakal menambah koleksi "mercusuar"-nya, jika Sky City yang dikembangkan China Board Group rampung terbangun. Ketinggiannya mencapai 838 meter, mencakup 220 lantai, sekaligus mengerdilkan Burj Khalifa Dubai sebagai yang tertinggi di jagat raya.


22.56 | 0 komentar | Read More

Artefak Pop Superkid

Written By bopuluh on Sabtu, 03 Agustus 2013 | 22.56

JAKARTA, KOMPAS.com --
Album: Superkid: Trouble Maker (1977), Superkid II: Dezember Break (1979)
Personel: Deddy Stanzah (bas, vokal), Deddy Dores (gitar, keyboard, vokal), Jelly Tobing (drum, vokal)

Album band Superkid: Trouble Maker dan Superkid II: Dezember Break, dimunculkan kembali oleh Bravo Musik. Dua album itu menjadi bagian dari arus perubahan pada musik industri di Indonesia pada zamannya. Sebelum paruh kedua 1970-an musik rock kurang mendapat tempat dalam album. Band rock seperti AKA dari Surabaya atau Trenchem dari Solo, yang garang di panggung itu, misalnya, menjadi anak manis saat bernyanyi di album.

Namun, itu tidak seluruhnya berlaku bagi Superkid. Tiga "anak bengal" masa itu: Deddy Stanzah (bas, vokal), Deddy Dores (gitar, vokal), dan Jelly Tobing (drum), lewat album pertama, Trouble Maker, berani memainkan musik yang lazim untuk konsumsi panggung. Mereka menyempal dari arus utama industri dengan berani berbeda. Semangat main-main, kegembiraan bermusik yang biasa dinikmati bersama penonton di pentas musik itu, mereka alihkan ke format album.

Maka, muncullah lagu gado-gado dalam "HOW" yang berisi rangkaian potongan-potongan "Smoke on the Water" milik Deep Purple, "Jumping Jack Flash" dari Rolling Stones, sampai "Bohemian Rhapsody"-nya Queen. Bagian dan awal dan akhir lagu dicomot sekelumit dari lagu Rolling Stones, "Jiving Sister Fanny". Di panggung, kala itu, permainan semacam itu biasanya mendapat sambutan seru.

Deddy Stanzah memang penghayat tulen dari Rolling Stones. Nama band Rollies konon muncul dari Deddy yang diambil dari bandnya Mick Jagger itu. Dalam lirik lagu "HOW", nama Jagger juga disebut-sebut. Bahkan, lagu "Honky Tonk Woman"-nya Jagger/Richard itu juga secara utuh-utuh dibawakan Superkid dalam Trouble Maker. Album ini sekaligus menjadi penanda proses transformasi dari kebanggaan meniru ke usaha pembuatan lagu sendiri.

Namun, album Trouble Maker juga terasa mendua dalam konsep komposisi. Selain lagu-lagu yang katakanlah agak "progresif", Superkid juga masih terkesan melayani pasar arus utama musik pop pada zamannya. Lagu-lagu seperti "Kukan Kembali", "Diriku Berjanji", "Seindah Senyum" adalah tipikal lagu pop yang banyak beredar di radio ketika itu. Terkesan menye-menye, memelas karena putus cinta. Semangat lagu-lagu itu tak segagah dan tak senakal lagu-lagu Suiperkid sebelumnya di album Trouble Maker.

Dezember Break
Album Superkid II, Dezember Break, semakin menunjukkan kuatnya musikalitas personelnya. Sisa-sisa pengaruh dari grup/musisi lain masih kuat menempel meski ada proses untuk menjadikan pengaruh itu bagian dari proses menjadi Superkid.

Di sini ada lagu "Tommy"-nya The Who, "Leaving on the Jet Plane" yang di album ini tertulis judulnya sebagai "I'm Leaving". Ada pula jejak rasa musik gaya-gaya Santana, seperti pada lagu "Old Friends are Gold" karya Albert Warnerin. Pada penggarapan musiknya terdengar ada sedikit rasa Latin rock dengan sentuhan perkusi, plus pilihan sound gitar yang mirip-mirip milik Carlos Santana, serta permainan organ yang digunakan band Santana (meski Superkid tidak menggunakan Hammond B2).

Kedua album Superkid ini muncul pada masa-masa ketika musik industri di Indonesia mulai mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Ketika itu muncul gerakan pembaruan rasa dari musisi muda lewat ajang Lomba Cipta Lagu Remaja-nya radio Prambors yang antara lain menghasilkan lagu "Lilin Kecil" dari James F Sundah. Sebelumnya lahir album Badai Pasti Berlalu dari Eross Djarot, Chrisye, Jockey Suryoprayogo. Dan God Bless yang akhirnya pada 1975 merilis album pertama yang berisi "Setan Tertawa" dan "Huma di Atas Bukit".

Pada setiap zaman memang diperlukan anak-anak bengal untuk memecah kemandekan kreativitas. Superkid adalah salah satunya. Dan album ini merupakan "artefak" budaya pop yang berbunyi. (XAR)


22.56 | 0 komentar | Read More

Polri Paling Banyak Gunakan Anggaran untuk Kendaraan Dinas

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tercatat paling banyak menggunakan anggaran untuk kendaraan dinas pada tahun anggaran 2013 yakni mencapai Rp 988,9 miliar. Dana tersebut untuk pembelian 3.664 kendaraan.

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) mengungkapkan hal itu dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (4/8).  "Kepolisian menempati peringkat pertama di antara seluruh kementrian maupun lembaga yang mengalokasikan anggaran untuk kendaraan dinas," kata Koordinator Advokasi Fitra, Maulana.

Kementrian Pertanian menempati peringkat kedua denggan alokasi anggaran Rp 260 miliar untuk pembelian 5.188 kendaraan dinas. Diikuti Kementrian Keuangan Rp 120 miliar untuk 496 unit kendaraan, Kementrian Perhubungan Rp 114,6 miliar untuk 2.180 kendaraan, Kementrian Kehutanan sebanyak Rp 113,6 miliar untuk 1.127 unit.

Sedangkan untuk peringkat lima terbawah atau yang lebih sedikit mengalokasikan dana untuk kendaraan dinas yaitu Kementrian Luar Negeri sebanyak Rp 79,6 miliar untuk 190 unit kendaraan dan Kejaksaan RI sebesar Rp 75,3 miliar untuk 331 kendaraan.

Kemudian diikuti Badan Pengawas Pemilu sebanyak Rp 63,75 miliar untuk 161 kendaraan, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Rp 63,6 miliar untuk 312 kendaraan, dan Kementrian Agama sebesar Rp 59,3 miliar untuk 878 kendaraan. "Pengadaan kendaraan dilaksakan setiap tahun," lanjut Maulana.

Maulana mengatakan, berdasarkan catatan Fitra tahun 2011 terdapat Rp 278 miliar hanya untuk kendaraan dinas para pejabat negara, baik menteri, pejabat eselon I, dan eselon II.

Fitra mencatat adanya dana Rp 2,57 triliun yang digunakan untuk membeli kendaraan dinas sebayak 18.502 unit dari 87 kementrian maupun lembaga pemerintahan. Data tersebut  berdasarkan dokumen anggaran Keppres Nomor 37 tahun 2012 tentang rincian APBN 2013 di 87 kementrian maupun lembaga yang telah diolah Fitra.

Untuk itu menurut Maulana, kendaraan dinas tidak dapat dipakai untuk kepentingan pribadi karena bertentangan dengan asas pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003.

Editor : Egidius Patnistik


22.56 | 0 komentar | Read More

Komposisi Tepat Melarutkan Gelatin

Written By bopuluh on Jumat, 02 Agustus 2013 | 22.56

KOMPAS.com - Sebagai alternatif membuat aneka makanan pencuci mulut yang segar, agar-agar dan jeli bubuk bisa diolah menjadi puding atau mousse yang lembut. Namun, untuk hasil yang lebih lembut, pilihan yang paling tepat adalah dengan menggunakan gelatin.

"Gelatin tersedia dalam dua varian, yaitu lembaran dan bubuk. Namun yang paling mudah dipakai adalah yang bubuk," ungkap Chef Yus Andriana, Advisory Chef Pastry Fonterra Foodservices di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Berbeda dengan agar-agar dan jeli yang harus dimasak terlebih dulu, gelatin tak perlu dimasak. Anda hanya perlu untuk melarutkan bubuk gelatin ini dalam air matang. Namun Yus menambahkan, persentase air dan gelatin harus benar-benar tepat agar gelatin bisa memadat.

Perbandingan tepat antara air dengan gelatin adalah  5:1. Ini berarti, satu gram gelatin harus dilarutkan dengan lima gram air. Setelah dilarutkan, gelatin harus diaduk rata dan didiamkan selama lima menit.

"Proses istirahat ini diperlukan untuk memberi waktu kepada butiran gelatin agar bisa menyerap air dan larut sempurna. Setelah lima menit, larutan gelatin bisa dicampur dengan bahan lainnya," sarannya.

Editor :

Felicitas Harmandini


22.56 | 0 komentar | Read More

Cara Kita Memilih Pemimpin...


KOMPAS.com- Tanggal 17 Agustus mendatang, Indonesia akan memperingati kemerdekaannya yang ke-68. Namun, di usianya yang ke-68 itu, Indonesia belum memiliki sistem atau cara untuk menemukan calon presiden yang ideal untuk dipilih.

Tahun 2014, Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan presiden lagi, tetapi hingga kini belum ditemukan calon presiden yang dianggap benar-benar cocok untuk memimpin negeri ini. Pemilihan presiden pada tahun 2014 dianggap penting karena dalam pemilihan presiden itu akan muncul presiden baru, yang akan menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Undang-undang mengatur bahwa presiden Indonesia hanya boleh memerintah selama dua periode, masing-masing periode lima tahun. Setelah itu, ia tidak diperkenankan untuk mencalonkan diri kembali. Yudhoyono pertama kali terpilih sebagai presiden tahun 2004, dan tahun 2009 ia terpilih kembali untuk kedua kalinya.

Persoalannya, hingga kini, sekitar satu tahun lagi, Indonesia sama sekali belum memiliki bayangan mengenai siapa yang akan menggantikan Yudhoyono. Memang ada beberapa nama yang kerap kali disebut-sebut sebagai calon presiden, tetapi sebagian besar adalah nama-nama lama yang di masa lalu kalah populer dibandingkan dengan Yudhoyono.

Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, dan Wiranto adalah beberapa nama yang selalu disebut-sebut sebagai calon presiden setiap menjelang pemilihan presiden tiba, tetapi perolehan suara mereka dalam pemilihan presiden jauh di bawah suara yang diperoleh Yudhoyono. Menjelang Pemilihan Presiden 2014, nama-nama itu muncul kembali. Dari beberapa survei dan pengumpulan pendapat (polling), Prabowo Subianto termasuk salah satu calon yang populer.

Banyak yang menyatakan, pilihan kepada Prabowo itu diambil karena orang-orang yang disurvei menganggap Presiden Yudhoyono kurang tegas dan agak lambat dalam mengambil keputusan. Mereka lebih condong kepada Prabowo yang mereka anggap tegas dan cepat dalam mengambil keputusan.

Namun, perlu disadari, pilihan itu hanyalah hasil dari sebuah survei yang respondennya terbatas apabila dibandingkan dengan pemilih yang jumlahnya ratusan juta. Dalam pemilihan presiden yang pesertanya jauh lebih banyak, hasilnya mungkin saja berbeda.

Akhir-akhir ini, bahkan nama Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta, yang menjadi tokoh kesayangan media (media darling), muncul dan dimunculkan dalam survei atau polling yang diadakan oleh lembaga-lembaga independen.

Hasilnya, Joko Widodo dianggap sebagai calon presiden terfavorit mengalahkan tokoh-tokoh lain. Padahal, performa Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta belum teruji mengingat ia baru menduduki jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, 15 Oktober 2012. Dengan kata lain, belum satu tahun. Terheran-heran

Kita terheran-heran melihat bagaimana pemilih di Indonesia menjatuhkan pilihannya dalam pemilihan presiden. Pengalaman menunjukkan bahwa dukungan dari partai politik dalam pemilihan presiden tidaklah signifikan.

Dalam Pemilihan Presiden 2004, calon yang diusung Partai Golkar yang menempati urutan teratas dalam Pemilu Legislatif 2004 dikalahkan oleh Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat. Padahal, dalam Pemilu Legislatif 2004, Partai Demokrat hanya berada di urutan kelima. Hal serupa terulang dalam Pemilihan Presiden 2009. Partai Golkar dalam Pemilu Legislatif 2009 menempati urutan kedua dengan perolehan 15.037.757 suara, tetapi calon yang diusungnya dalam Pemilihan Presiden 2009 hanya meraih 1.847.958 suara.

Ketika Yudhoyono meraih suara terbanyak dalam Pemilihan Presiden 2004, argumen yang diajukan adalah kemenangan itu dicapai karena ia berhasil menarik simpati pemilih dengan mencitrakan dirinya sebagai orang yang teraniaya. Ia mencitrakan dirinya sebagai orang yang diperlakukan dengan tidak semestinya dan kemudian disingkirkan oleh Presiden Megawati. Citra sebagai orang yang teraniaya itu menjadikan Yudhoyono mengalahkan Presiden Megawati dalam Pemilihan Presiden 2004.

Saat memerintah (2004-2009) banyak yang kecewa dengan performa Presiden Yudhoyono. Ia dinilai kurang tegas dan agak lambat dalam mengambil keputusan. Bahkan, beberapa survei yang diadakan untuk menilai performa Yudhoyono menunjukkan adanya penurunan popularitas. Akan tetapi, ketika ia maju lagi dalam Pemilihan Presiden 2009, ia terpilih kembali dengan jumlah suara yang sangat meyakinkan.

Pertanyaan yang sama muncul kembali. Apa yang menjadi pertimbangan pemilih di Indonesia dalam menjatuhkan pilihannya, baik itu di dalam pemilihan presiden maupun dalam pemilihan kepala daerah? Pertanyaan ini muncul karena tampaknya rekam jejak (track record) dan performa calon presiden ataupun calon kepala daerah sama sekali tidak menjadi pertimbangan pemilih dalam menentukan pilihannya.

Itu juga yang menjelaskan mengapa banyak calon kepala daerah yang dinilai korup, atau yang tengah menjalani proses pengadilan karena tindak korupsi, menang dalam pilkada.

Jangan heran jika saat ini banyak yang sudah berandai-andai bahwa jika ada partai politik besar yang mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden, ia akan terpilih sebagai Presiden Indonesia untuk periode 2014-2019.

Yang dijadikan dasar untuk berandai-andai itu adalah hipotesa di atas, yakni rekam jejak dan performa calon presiden itu tidak dijadikan pertimbangan oleh pemilih. Dengan demikian, setiap tokoh yang memiliki popularitas yang tinggi mempunyai peluang untuk menjadi presiden Indonesia. Benarkah?

Editor : Hindra Liauw

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

22.56 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger